DIASUHNYA Pardede kecil dalam agama Kristen Protestan. Didorongnya Pardede untuk menggapai cita-cita melalui pendidikan dan kerja keras.Diajarinya Pardede kecil untuk juga berkasih-sayang kepada sesama, yang kemudian melahirkan penghormatan kepada sesama tanpa membedakan suku dan agama.
Itulah sebabnya, Pak Katua pernah menegur keras bawahannya saat sedang rapat, mendadak bunyi adzan terdengar, sementara bawahannya yang beragama Islam masih juga berada di ruang rapat, tanpa ada upaya minta izin untuk beribadah terlebih dahulu.
Dari peristiwa ini, Pardede pun berucap, “Janganlah kau lebih takut sama aku daripada sama Tuhanmu.”
Kendati sang ayah wafat saat Pardede baru berusia lima tahun, tapi ingatan Pardede pada cara pengajaran ayahnya terus membekas. Kelak, ketika Pardede telah dewasa, dia bukan saja menjadi pribadi yang tangguh, tetapi juga tetap memelihara kepedulian terhadap sesama. Kasih sayangnya yang besar terhadap para bawahannya, membuatnya bukan sekedar atasan dan bos
yang disegani karena memiliki kekuasaan dan uang, tapi karena dari mulutnya kerap muncul kalimat-kalimat "ajaib" yang seperti jatuh dari langit.
Seperti yang diceritakan putri bungsunya, Indri, pada siang di restoran Hotel Danau Toba, Medan, di awal November 2011 lalu. “Kalau kau melempar batu, lihatlah dia sampai ke tujuan atau tidak? Jika tidak, bertanyalah kenapa. Jika sampai, bagaimana sampainya. Tengkurapkah
atau terlentangkah?”
Ya ya, tiap pekerjaan memang harus selesai. Itulah yang dilakukan Pak Katua selaku manusia, kepala keluarga, dan juga pengusaha. Pardede tahu betul, sejauh apa "batu" (pekerjaan) yang telah dia lakukan, telah sampai pada tujuan yang diingankan atau belum, macam apa posisi 'batu' tujuan itu.
Mendengarkan kisah Indri perihal bapaknya, saya pun bertanya tentang masa kecil Pak Katua. Sebab saya percaya, apa yang dikerjakan dan apa yang diperoleh Pardede di usia tua, tentu bermula dari masa kanak-kanak.
Indri pun kembali berkisah tentang masa kecil ayahnya. Katanya, setelah Tuhan memanggil sang kakek kepangkuan-Nya, keadaan keluarga Pardede seperti kapal oleng, sebab kehilangan nahkoda. Sudah tentu kejadian ini memprihatinkan bagi keluarga yang ditinggalkan, terutama bagi nenek dan Pardede kecil. Sebab dengan tiadanya ayah, itu berarti ibunda dan anak harus bekerja
lebih keras guna mengatur kehidupan mereka, apalagi si anak menjelang memasuki sekolah menuntut ilmu sebagai modal di hari depan.
Tapi bersyukurlah mereka, karena ipar tertua T.D. Pardede yaitu J. Tambunun selalu menghiburnya dan memberi dorongan kegairahan hidup, antara lain menyampaikan ajaran Kristus serta menceritakan "Ia menderita demi keselamatan manusia."
Bimbingan mental dari iparnya itu ternyata masuk pikiran dan hati T.D.Pardede dan ibundanya, sehingga mereka mampu mengatasi penderitaan batin. Mereka rajin sembahyang ke gereja, di mana hal itu menimbulkan semangat dalam menjalani hidup.
Pada waktu yang sudah memungkinkan ketika umurnya 7 tahun, T.D. Pardede memasuki sekolah desa di Balige. T.D. Pardede amat tekun belajar di sekolah. Di rumah selepas sekolah ia ikut membantu orang tuanya. Karena ketekunannya belajar di sekolah, pada tiap kenaikan kelas ia selalu naik. Sang guru juga menyatakan kesenangannya bahwa Tumpal Dorianus anak rajin dan selalu hormat kepada guru. Walaupun masih kecil Tumpal Dorianus selalu bersih pakaiannya ke sekolah dan bersama teman-temannya ia suka bergaul. Bilamana ada uangnya,ia tidak pelit, mau mempergunakannya bagi kepentingan bersama dengan teman-temannya.
Perihal pakaian bersih dan rapi yang dikenakan Pardede, rupanya terus terbawa hinga dewasa. Indri bercerita, ke manapun ayah pergi, selalu saja rapi. Di mobil juga sudah tersedia beberapa jas, beberapa sepatu dan topi, yang siap dipakai berganti oleh Pak Katua. "Ayah itu selalu mengenakan setelan jas, dasi, topi, serta tongkat," kenang Indri.
Saya sungguh penasaran, kenapakah Pardede memiliki naluri berdagang yang luar biasa. Berlatih atau bersekolah di mana Pak Katua itu dalam soal niaga?
Pertanyaan saya pun terjawab, saat membuka buku Drs Tridah Bangun yang diberikan Indri kepada saya. Inilah kutipan buku itu, "Pada waktu-waktu tertentu dan memungkinkan, ia berjalan-jalan ke pasar dan melihat ramainya orang berseliweran di pekan ini. Ada yang membeli keperluannya, ada pula yang menjual hasil tanaman dan kerajinan tangan. Begitulah kehidupan dalam pasar, sehinggga menarik perhatian si anak kecil Tumpal Dorianus Pardede. Rasa ingin tahunya juga mendorong dirinya untuk melihat-lihat keramaian pasar. Secara tekun ia mengamati apa-apa yang terjadi di sekelilingnya dan di pasar itu sendiri. Lama kelamaan anak ini menaruh minat pada kehidupan di pasar, terutama dalam hal jual beli barang.
Begitu besar minatnya kepada keramaian dan kehidupan pasar di mana orang-orang berdagang, maka yang menjadi minatnya itu disampaikannya kepad ibunda serta ipar tertuanya agar diperkenankan berdagang di pasar secara kecil-kecilan, berjualan apa saja yang dapat dilakukan, untuk mendapat uang setelah selesai jam sekolah.
Ibunda dan ipar tertuanya terkejut mendengar permintaan tersebut, namun demikian mengizinkannya dengan memberi nasihat-nasihat sebagai bekal menempuh sebagian kehidupan di pasar, disamping tugas pokoknya mengikuti pelajaran di sekolah.
Demikianlah yang menjadi kehendak sang anak, terpenuhi. Dengan modal kecil-kecilan Pardede berdagang di pasar dan menyesuaikan dengan kemampuannya, baik dalam modal maupun pada
usianya yang masih muda. Hal ini berarti sang anak secara bersamaan sekaligus menuntut tiga macam pelajaran sebagai bekal hidupnya. Pertama: di sekolah menuntut ilmu, kedua: di gereja/sekolah minggu mendapatkan pelajaran hal-hal yang berkenaan dengan keagamaan/Ketuhanan dan ketiga: di pasar mulai belajar berdagang.
Dalam keadan seperti inilah T.D. Pardede yang berusia amat muda mulai belajar mengatur diri, yang di kemudian hari ternyata menjadi bekal pokok hidupnya sebagai salah seorang terkemuka dalam dunia bisnis di kawasan tanah air, Indonesia."
Pardede kecil boleh saja berkubang di pasar bersama para kuli dan pekerja kasar, tapi lingkungan ini tak mampu membuatnya menjadi urakan dan keras. Pardede tetap santun dan memiliki kelembutan, maklumlah, pelajaran dari ayah serta keluarga di rumah ternyata telah menjadi pondasi yang kuat bagi kehidupan Pardede selanjutnya.
Mengenangkan kekukuhan Pardede kecil dalam bersikap, ingat pula awak akan kalimat bijak Pak Katua. “Hiduplah seperti dekke lele (ikan lele), yang walau hidup dalam lumpur badannya tidak kotor dan berlumpur.”*
7.12.11
10.11.11
Teknik Pembuatan Kolam Terpal Gali
SETIDAKNA terdapat dua jenis kolam terpal: 'tenggelam' dan 'terapung'. Kolam yang pertama maksudnya di bawah permukaan tanah, sementara yang kedua di atas. Dengan demikian, teknik pembuatan kolam terbagi atas: menggali dan tidak menggali. Kolam gali berdinding tanah. Sedangkan kolam 'terapung' biasanya berdinding bambu atau bahkan permanen (semen).
Pada kolam gali (untuk budidaya pembesaran), jangan membayangkan pengerjaannya sangat berat. Bila dinding kolam harus 120 cm --ketinggian air 110 cm)-- kedalaman gali hanya sekitar 60 cm. Pasalnya tanah galian yang diangkat sekaligus menjadi dinding ke atas (galangan).
Hal yang perlu dicermati, tanah yang digali jangan tepat di sisi bidang luasan kolam. Bila Anda menarik benang untuk menandai petakan kolam yang hendak dibuat, tanah yang digali paling tidak berjarak 20 cm. Artinya, terdapat bidang tanah selebar 20 cm sisi benang ke dalam yang tidak langsung jadi sasaran cangkul.
Teknik ini dimaksudkan agar pekerja tidak memboroskan tenaga. Sementara hasilnyapun lebih kokoh. Mengapa? Bila menggali tepat di sisi benang, maka galangan yang terbentuk dipastikan berasa di sisi luar benang. Akibatnya, pekerja harus menambal dinding saat pengerjaan terakhir. Tambalan tersebut pasti rawan longsor.
Teknik yang benar yakni tanah diangkat langsung dipadatkan dengan menginjak-injak. Biarkan tanah memadat hingga ke dalam melewati bentangan benang. Tahap itu terus dilakukan hingga diperoleh ketinggian yang dikehendaki dan bidang dasar kolam rata. Setelah ketinggian cukup, dinding dipapras memakai cangkul. Dinding yang diperoleh berasal dari tumpukan tanah padat, bukan tempelan.
Kolam gali terbagi dua jenis dari sisi gantungan terpalnya. Ada yang memakai bentangan bambu bulathingga terpal menjorok di atas tanah. Biasanya antara 10 hingga 20 cm. Cara lain, ujung terpal cukup dijepit atas tanah melewati bibir kolam.
Kedua cara memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang memakai bambu, hama seperti ular tidak leluasa masuk ke kolam. Kekurangannya, terpal yang melintasi bambu gampang sobek akibat diterpa sinar matahari. Hal terakhir tidak terjadi pada kolam yang tidak memakai bambu (dan sedikit menghemat biaya), namun kekurangannya hama relatif mudah masuk kolam. Untuk mencegahnya, lingkungan sekitar kolam harus bersih. Penulis sendiri belakangan memakai tidak memakai bambu.*
8.11.11
Petani Bambu Jatiluhur Tersingkir di Kampung Sendiri
JATILUHUR bukan semata soal waduk. Di seberang waduk yang duduk sekitar sembilan kilometer dari pusat Kab. Purwakarta, Jawa Barat, punya hutan bambu. Kawasan pepohonan bambu dimaksud bagian kekayaan tanah air yang memiliki sekitar 200 jenis bambu.
Hutan bambu terletak di Sukasari, salah satu kecamatan yang beberapa tahun lalu terisolir. Tak pelak karena sebelum akses jalan darat dirintis, Sukasari hanya dapat dijangkau dengan menyeberangi waduk Jatiluhur berjam-jam.
Kini, tantangan bagi Pemkab Purwakarta guna mempercepat pengentasan kemiskinan di Sukasari, tak lain dengan mengoptimalkan potensi tak kurang 20 ribu hektar hutan bambu sebagai katrol ekonomi. Warga setempat memang selama ini hanya menekuni budidaya bambu di lahan Perhutani. Mereka minim lahan sendiri dan tak terbiasa dengan komiditas lain.
Salah satu desa yang masyarakat nyaris total bergantung budidaya bambu yakni Kutamanah, pusat Kec. Sukasari. “Kutamanah dulu hanya ada belukar. Kami pindahan beberapa kampung sekitar dua kilometer dari sini. Kami pindah 1971 karena desa ditenggelamkan waduk,” ungkap Omo, 65 tahun, sesepuh kampung Ciputat, Sukamanah.
Di Sukamah terdapat tiga blok hutan bambu yang totalnya 385 hektar. Data Resort Pemangkuan Hutan Parang Gombong yang membawahi kawasan hutan setempat menyebutkan, di sini hidup 118 kepala keluarga petani bambu. “Masyarakat memang diizinkan menanam bambu di lahan milik Perhutani,” jelas Kepala Resort Pemangkuan Hutan Parang Gombong Andi Kusnadi.
Omo dan Dudung, ketua RT 12/05 Desa Sukamanah, menceritakan, warga mengembangkan budidaya bambu bukan tanpa alasan. Awalnya, warga menanam tumbuhan menjulang ini untuk kebutuhan pembuatan rumah sendiri, walaupun pihak Perhutani melarang. Belakangan masyarakat serius berbudidaya bambu karena penanganannya mudah, nyaris tanpa biaya operasional khusus, dan cepat menghasilkan dibanding tanaman kayu --mulai dipanen setelah lima tahun.
“Dahulu warga menanam bambu sembunyi-sembunyi. Hasilnya sekarang ada 40 ribu lebih rumpun bambu, sebagian besar di Ciputat Wetan, yakni sekitar 22 ribu rumpun,” tandas Dudung yang juga pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan Bambu Jaya, Sukamanah.
Menggambarkan manfaat ekonomi hutan bambu, Dudung mengatakan satu keluarga yang memiliki 100 rumpun bambu siap panen dapat mengantongi sekitar Rp 200 ribu per bulan. Hasil ini dari penjualan sebatang setiap rumpun dengan harga Rp 2.000/batang.
Tak besar memang, namun warga masih mengantongi pendapatan tambahan dengan menjadi pekerja saat pemanenan dan pengangkutan bambu. Dari sini seorang kuli dapat penghasilan hingga Rp 100 ribu setiap hari.
Angka kecil hasil penjualan bambu di atas bukan sama sekali tidak menarik. Bagi pelaku usaha skala menengah ke atas, budidaya tanaman yang kebanyakan untuk bahan bangunan di Jabodetabek ini tetap menggiurkan. Betapa tidak, aliran pemasukan pengusaha tersebut mudah dihitung dengan kepemilikan ribuan rumpun bambu.
Inilah salah satu ironi masyarakat kampung bambu di Jatiluhur. Kini, ratusan ribu rumpun bambu tak lagi dimiliki warga setempat. Dengan kata lain, pengusaha berduit dari kota, telah menjadi penguasa baru di kawasan hutan bambu. Sementara warga desa satu demi satu menjadi penonton.
“Ada keluarga miskin yang cuma punya 20 rumpun, sementara yang kaya miliki lima ribu rumpun. Bahkan ada yang puluhan ribu rumpun,” ujar Dudung.
Pekerjaan rumah bagi dinas terkait Pemkab Purwakarta --sebelum petani bambu benar-benar tergusur dari kampung halamannya-- yakni megintensifkan pelaksanaan rencana program pariwisata kampung bambu Jatiluhur. Toh, ini memperkuat kepariwisataan waduk Ir. H. Juanda.
Dan, satu lagi, terkait dengan program pariwisata dimaksud, pemerintahan setempat wajib serius membuka akses pasar bagi kerajinan bambu warga Sukasari dan sekitarnya. Jangan hanya di tataran upacara. “Bukan tidak butuh pelatihan pembuatan kerajinan bambu namun lebih penting dibukakakan pasarnya. Ini yang dilupakan pemerintah Purwakarta,” Dudung prihatin.*
1.5.11
Republik Binatang Tikus
INDONESIA ini memang "Republik Binatang Tikus". Tikus berkeliaran di sepanjang got hingga sudut ruangan gedung bertingkat. Binatang rakus ini juga merajalela rumah pak er-te hingga pojok-pojok istana pak presiden. Tikus selokan juga mencari mangsa di pintu gerbang udara republik, yakni bandara. Tak peduli bandara internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, gerbang kebanggaan "Republik Binatang Tikus".
Sabtu, 30 April kemarin, saya kembali ke Balai Besar Karantina Pertanian Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Sesuai petunjuk seorang ibu petugas dua jumat sebelumnya, saya --warga resmi Indonesia Raya-- berharap dapat menerbangkan empat ekor anak ayam pelung ke Makassar cukup berbekal surat rekomendasi Dinas Pertanian dan Perikanan Depok.
Prediksi meleset. Seorang petugas pria berbusana olahraga yang tentu tanpa papan nama, menyambut dengan senyum ramah. saya dan dua warga republik yang berencana mengirim ayam jago ke Medan membalas senyum di petugas balai karantina.
Suasana sejuk sontak melayang tatkala petugas mulai pidato tentang peraturan pengiriman ayam, yang sedikit berbeda dengan ibu petugas dua jumat lalu. Menurut si bapak, untuk mengeluarkan ayam melalui bandara juga membutuhkan surat izin dari dinas pertanian provinsi/kota/kabupaten tujuan pengiriman. Dia juga mempersoalkan surat rekomendasi Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Depok yang saya bawa karena tak disertai hasil tes laboratoium flu burung. Lha, tes laboratoium yang tak mungkin diperoleh warga Depok sebab kota satu ini belum memiliki fasilitas pengujian flu burung.
Apa mau dikata. Kami menyerahkan nasib ke aparat pemerintah itu. Dia berseru, ayam perlu diperiksa di laboratorium karantina untuk mengetahui statusnya soal flu burung. Biayanya 50 ribu rupiah per ekor. Setuju saja. Sayapun membawa si pelung ke ruang pemeriksaan.
Selesai dengan bapak berpakaian olahraga, saya berhadapan dengan petugas laki-laki setengah baya berseragam balai. Ya, dia jelas petugas karantina sesuai lambang-lambang yang menempel pada seragam coklat mudanya. Tapi, aduh, namanya siapa ya? Seragamnya tanpa papan nama. Ini agak aneh.
Walaupun berseragam, dia berbeda dengan bapak sebelumnya. Dia lebih lembut dan tidak berbicara lantang tentang perlunya penegakan hukum. "Nanti kita bantu," ujarnya seraya meletakkan kotak di pelung di atas papan pembatas front office. "Berapa biayanya, Pak?" Si Bapak mengatakan, cukup 20 ribu rupiah per ekor. Kok berbeda ya?
Saya enggan mempertanyakan aturan yang tiba-tiba berubah tersebut. Toh, yang satu ini lebih murah. Saya setuju. Dan, lagi-lagi ayam dibawa ke ruang pemeriksaan. Di sana ibu drh FZ menyaksikan saya membuka kotak ayam lalu mempersilakan menutupnya kembali. Pemeriksaan laboratorium flu burung selesai. Ringkas sekali.
Sertifikat kesehatan hewanpun diserahkan di ruang depan oleh si bapak. Saya menyerahkan satu lembar 50 ribu rupiah karena sang petugas tak menyebut angka pasti biaya pemeriksaan meski awalnya dia menyodorkan angka 20 ribu rupiah per ekor. Tidak ada kuintansi. Cukup salam tempel dan sayapun melenggang pergi.
Nah, tidak ada kata lain yang cocok selain "korupsi" alias "pungli" atas peristiwa tersebut. Untuk memenuhi permintaan ayah di Makassar yang hendak menyalurkan hobi memelihara ayam pelung, saya melalui prosedur "ketat" tapi ujung-ujungnya "pungli" --"birokrasi republik binatang tikus".
Tapi, sudahkah. Empat ekor anak ayam peluang akhirnya terbang ke Makassar memakai pesawat Lion Air. Petang, saya mendapat kabar dari adik yang menjembut si pelung di bandara Sultan Hasanuddin, paket sudah di tangan setelah diharuskan oleh petugas karantina pertanian setempat membayar 100 ribu rupiah. Juga tanpa tanda terima. Negeri ini memang "Republik Binatang Tikus"!*
Sabtu, 30 April kemarin, saya kembali ke Balai Besar Karantina Pertanian Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Sesuai petunjuk seorang ibu petugas dua jumat sebelumnya, saya --warga resmi Indonesia Raya-- berharap dapat menerbangkan empat ekor anak ayam pelung ke Makassar cukup berbekal surat rekomendasi Dinas Pertanian dan Perikanan Depok.
Prediksi meleset. Seorang petugas pria berbusana olahraga yang tentu tanpa papan nama, menyambut dengan senyum ramah. saya dan dua warga republik yang berencana mengirim ayam jago ke Medan membalas senyum di petugas balai karantina.
Suasana sejuk sontak melayang tatkala petugas mulai pidato tentang peraturan pengiriman ayam, yang sedikit berbeda dengan ibu petugas dua jumat lalu. Menurut si bapak, untuk mengeluarkan ayam melalui bandara juga membutuhkan surat izin dari dinas pertanian provinsi/kota/kabupaten tujuan pengiriman. Dia juga mempersoalkan surat rekomendasi Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Depok yang saya bawa karena tak disertai hasil tes laboratoium flu burung. Lha, tes laboratoium yang tak mungkin diperoleh warga Depok sebab kota satu ini belum memiliki fasilitas pengujian flu burung.
Apa mau dikata. Kami menyerahkan nasib ke aparat pemerintah itu. Dia berseru, ayam perlu diperiksa di laboratorium karantina untuk mengetahui statusnya soal flu burung. Biayanya 50 ribu rupiah per ekor. Setuju saja. Sayapun membawa si pelung ke ruang pemeriksaan.
Selesai dengan bapak berpakaian olahraga, saya berhadapan dengan petugas laki-laki setengah baya berseragam balai. Ya, dia jelas petugas karantina sesuai lambang-lambang yang menempel pada seragam coklat mudanya. Tapi, aduh, namanya siapa ya? Seragamnya tanpa papan nama. Ini agak aneh.
Walaupun berseragam, dia berbeda dengan bapak sebelumnya. Dia lebih lembut dan tidak berbicara lantang tentang perlunya penegakan hukum. "Nanti kita bantu," ujarnya seraya meletakkan kotak di pelung di atas papan pembatas front office. "Berapa biayanya, Pak?" Si Bapak mengatakan, cukup 20 ribu rupiah per ekor. Kok berbeda ya?
Saya enggan mempertanyakan aturan yang tiba-tiba berubah tersebut. Toh, yang satu ini lebih murah. Saya setuju. Dan, lagi-lagi ayam dibawa ke ruang pemeriksaan. Di sana ibu drh FZ menyaksikan saya membuka kotak ayam lalu mempersilakan menutupnya kembali. Pemeriksaan laboratorium flu burung selesai. Ringkas sekali.
Sertifikat kesehatan hewanpun diserahkan di ruang depan oleh si bapak. Saya menyerahkan satu lembar 50 ribu rupiah karena sang petugas tak menyebut angka pasti biaya pemeriksaan meski awalnya dia menyodorkan angka 20 ribu rupiah per ekor. Tidak ada kuintansi. Cukup salam tempel dan sayapun melenggang pergi.
Nah, tidak ada kata lain yang cocok selain "korupsi" alias "pungli" atas peristiwa tersebut. Untuk memenuhi permintaan ayah di Makassar yang hendak menyalurkan hobi memelihara ayam pelung, saya melalui prosedur "ketat" tapi ujung-ujungnya "pungli" --"birokrasi republik binatang tikus".
Tapi, sudahkah. Empat ekor anak ayam peluang akhirnya terbang ke Makassar memakai pesawat Lion Air. Petang, saya mendapat kabar dari adik yang menjembut si pelung di bandara Sultan Hasanuddin, paket sudah di tangan setelah diharuskan oleh petugas karantina pertanian setempat membayar 100 ribu rupiah. Juga tanpa tanda terima. Negeri ini memang "Republik Binatang Tikus"!*
29.3.11
'Raja Lele' dari Ujung Timur Pulau Jawa
SIAPA raja lele yang sebenarnya? “Raja Lele”, bukan hanya berasal dari nama kelompok budidayanya saja, akan tetapi melihat kesuksesan yang dicapai dalam meningkatkan produksi ikan lele hingga ambang batas normal. Padat tebar yang tinggi hingga mencapai angka 1.000 – 1.500 ekor/m2 merupakan kunci utamanya.
Berada pada lokasi yang terletak pada 08025’57,5” LS - 114019’41,1” BT, di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Desa tembok Rejo, Kec. Muncar, Banyuwangi – Jawa Timur terdapat kelompok pembudidaya lele Super Intensif bernama “Raja Lele” dengan jenis lele yang dibudidayakan adalah lele dumbo. Selain usaha pembesaran lele untuk ikan konsumsi, Raja Lele juga bergerak dalam usaha perbenihan lele. Usaha perbenihan dilakukan untuk membantu pasokan benih untuk kegiatan pembesaran apabila mengalami kesulitan pasokan benih.
Digawangi oleh Syamsul Arifin, dialah ketua kelompok dari Raja Lele yang berhasil membudidayakan lele dengan padat tebar tinggi. Berawal dari pemikirannya yang sederhana untuk mengubah image negatif dari lele, dimana lele itu diproduksi. Bukan menjadi suatu rahasia apabila pemeliharaan lele di lokasi pemukiman yang padat penduduk banyak penolakan dari warga sekitar. Hal ini dikarenakan bau menyengat dari kolam tempat pemeliharaan. Sehingga pembudidaya lebih memilih untuk memelihara di pekarangan / kebun yang sedikit jauh dari tempat tinggal. Belum lagi dalam hal pakan yang digunakan. Sehingga oleh Syamsul diterapkan teknik budidaya, yakni budidaya ramah lingkungan dengan melakukan manajemen budidaya baik manajemen kualitas air maupun pemberian pakan.
Luas pemeliharaan Raja Lele saat ini terdiri dari kolam kecil dengan luasan total 160 m2 dan kolam besar berjumlah 600 m2. Dari luasan tersebut dapat memproduksi lele sebesar ± 150 ton/bulan. Kolam yang digunakan sebagai wadah budidaya sebagian besar berupa kolam beton, meski ada juga dari anggota kelompok yang menggunakan kolam dari terpal.
Lele dibudidayakan selama 2,5 bulan. Kebutuhan akan benih untuk Raja Lele selain dari pasokan pembenih lokal juga dari luar daerah, seperti Jember. Untuk kebutuhan pakan, Raja Lele menggunakan pakan buatan atau pelet hasil produksi pabrikan. Dalam pemeliharaannya, tidak ada perbedaan secara teknis budidaya dengan pembudidaya lele pada umumnya. Hanya melakukan sejumlah manajemen budidaya. Manajemen tersebut meliputi manajemen pakan, dan air.
Dalam hal pakan, pemberian pakan dilakukan dengan mengacu pada waktu dan feeding habit alami dari lele. Seperti yang diketahui, lele adalah jenis ikan yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Berawal dari hal tersebut, Raja Lele mengaturnya dengan memberi pakan dengan konsentrasi yang lebih banyak pada malam hari. Perbandingan pakannya, yaitu 70% malam dan 30% siang. Selain pakan, pergantian air merupakan bagian terpenting. Disamping untuk menjaga kesehatan ikan, juga dapat menghindari adanya penyakit. Meskipun lele termasuk ikan yang memiliki daya tahan kuat terhadap kondisi perairan yang jelek sekalipun, akan tetapi perkembangannya tidak dapat optimal. Hal lain yang dilakukan dalam budidaya super intensif ini adalah adanya pemilahan ukuran (grading) yang dilakukan setiap 3 – 4 hari sekali, serta penambahan probiotik pada pakan dan media pemeliharaan.
Selama ini permintaan akan lele di pasaran cenderung meningkat. Hasil produksi Raja Lele selain untuk konsumsi pasar lokal juga ke luar daerah. Daerah yang menjadi tujuan sekaligus pasar terbesar Raja Lele adalah Bali. Dari hasil panen 150 ton/bulan terbagi untuk pemasaran lokal dan luar daerah (Bali) dengan perbandingan 60 ton (lokal) dan 90 ton (Bali). Belum lama ini, Raja Lele telah memasarkan hasilnya ke Bandung. Tentunya bukan hal yang mudah jika ingin mengekspor hasil usaha budidaya hingga ke luar daerah. Ada beberapa hal yang menjadi tantangan, antara lain :
1. Kualitas barang (produk) yang bersaing
2. Harga yang bersaing
3. Jaminan keamanan akan produk dari pihak/instansi yang berwenang.
Syamsul menambahkan, keberanian Raja Lele memasarkan ikannya ke Bandung adalah dengan diperolehnya sertifikat CBIB dari KKP. Adanya sertifikat CBIB dapat memberikan jaminan keamanan pangan mulai bahan baku hingga produk akhir hasil budidaya yang bebas dari bahan cemaran sesuai persyaratan pasar. Sehingga dapat meningkatkan kepercayaan produsen kepada konsumen, yang nantinya akan memiliki daya saing terhadap produk yang dihasilkan. Yang penting untuk diperhatikan dalam memperoleh sertifikat ini, seluruh tahapan dalam budidaya ikan seperti sanitasi dan pengendalian yang bertujuan dalam upaya mencegah tercemarnya hasil perikanan budidaya dari berbagai bahaya keamanan pangan seperti bakteri, racun hayati (biotoxin), logam berat serta pestisida, maupun residu bahan terlarang (antibiotik, hormon, dsb).
Adapun kendala yang dialami Raja Lele saat ini adalah berkaitan dengan sarana transportasi. Selama ini produksi yang dihasilkan tidak bersamaan. Sehingga hasil panen diperoleh dari beberapa anggota kelompok untuk kemudian dikumpulkan dan dijadikan satu, dan selanjutnya didistribusikan ke daerah tujuan. Sarana pendistribusian biasanya berupa truk (untuk muatan besar) dan pick-up (untuk muatan kurang dari 5 ton). Dalam satu bulan, pengangkutan hasil panen dapat dilakukan hingga beberapa kali. Hal ini akan menambah biaya produksi karena belum adanya sarana pengangkutan.
Dengan tingkat padat tebar yang tinggi disertai manajemen budidaya yang baik serta adanya sertifikat CBIB, Raja Lele akan memiliki daya saing tinggi baik di daerah maupun secara nasional.*(Sumber: http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id)
Berada pada lokasi yang terletak pada 08025’57,5” LS - 114019’41,1” BT, di ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Desa tembok Rejo, Kec. Muncar, Banyuwangi – Jawa Timur terdapat kelompok pembudidaya lele Super Intensif bernama “Raja Lele” dengan jenis lele yang dibudidayakan adalah lele dumbo. Selain usaha pembesaran lele untuk ikan konsumsi, Raja Lele juga bergerak dalam usaha perbenihan lele. Usaha perbenihan dilakukan untuk membantu pasokan benih untuk kegiatan pembesaran apabila mengalami kesulitan pasokan benih.
Digawangi oleh Syamsul Arifin, dialah ketua kelompok dari Raja Lele yang berhasil membudidayakan lele dengan padat tebar tinggi. Berawal dari pemikirannya yang sederhana untuk mengubah image negatif dari lele, dimana lele itu diproduksi. Bukan menjadi suatu rahasia apabila pemeliharaan lele di lokasi pemukiman yang padat penduduk banyak penolakan dari warga sekitar. Hal ini dikarenakan bau menyengat dari kolam tempat pemeliharaan. Sehingga pembudidaya lebih memilih untuk memelihara di pekarangan / kebun yang sedikit jauh dari tempat tinggal. Belum lagi dalam hal pakan yang digunakan. Sehingga oleh Syamsul diterapkan teknik budidaya, yakni budidaya ramah lingkungan dengan melakukan manajemen budidaya baik manajemen kualitas air maupun pemberian pakan.
Luas pemeliharaan Raja Lele saat ini terdiri dari kolam kecil dengan luasan total 160 m2 dan kolam besar berjumlah 600 m2. Dari luasan tersebut dapat memproduksi lele sebesar ± 150 ton/bulan. Kolam yang digunakan sebagai wadah budidaya sebagian besar berupa kolam beton, meski ada juga dari anggota kelompok yang menggunakan kolam dari terpal.
Lele dibudidayakan selama 2,5 bulan. Kebutuhan akan benih untuk Raja Lele selain dari pasokan pembenih lokal juga dari luar daerah, seperti Jember. Untuk kebutuhan pakan, Raja Lele menggunakan pakan buatan atau pelet hasil produksi pabrikan. Dalam pemeliharaannya, tidak ada perbedaan secara teknis budidaya dengan pembudidaya lele pada umumnya. Hanya melakukan sejumlah manajemen budidaya. Manajemen tersebut meliputi manajemen pakan, dan air.
Dalam hal pakan, pemberian pakan dilakukan dengan mengacu pada waktu dan feeding habit alami dari lele. Seperti yang diketahui, lele adalah jenis ikan yang aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal). Berawal dari hal tersebut, Raja Lele mengaturnya dengan memberi pakan dengan konsentrasi yang lebih banyak pada malam hari. Perbandingan pakannya, yaitu 70% malam dan 30% siang. Selain pakan, pergantian air merupakan bagian terpenting. Disamping untuk menjaga kesehatan ikan, juga dapat menghindari adanya penyakit. Meskipun lele termasuk ikan yang memiliki daya tahan kuat terhadap kondisi perairan yang jelek sekalipun, akan tetapi perkembangannya tidak dapat optimal. Hal lain yang dilakukan dalam budidaya super intensif ini adalah adanya pemilahan ukuran (grading) yang dilakukan setiap 3 – 4 hari sekali, serta penambahan probiotik pada pakan dan media pemeliharaan.
Selama ini permintaan akan lele di pasaran cenderung meningkat. Hasil produksi Raja Lele selain untuk konsumsi pasar lokal juga ke luar daerah. Daerah yang menjadi tujuan sekaligus pasar terbesar Raja Lele adalah Bali. Dari hasil panen 150 ton/bulan terbagi untuk pemasaran lokal dan luar daerah (Bali) dengan perbandingan 60 ton (lokal) dan 90 ton (Bali). Belum lama ini, Raja Lele telah memasarkan hasilnya ke Bandung. Tentunya bukan hal yang mudah jika ingin mengekspor hasil usaha budidaya hingga ke luar daerah. Ada beberapa hal yang menjadi tantangan, antara lain :
1. Kualitas barang (produk) yang bersaing
2. Harga yang bersaing
3. Jaminan keamanan akan produk dari pihak/instansi yang berwenang.
Syamsul menambahkan, keberanian Raja Lele memasarkan ikannya ke Bandung adalah dengan diperolehnya sertifikat CBIB dari KKP. Adanya sertifikat CBIB dapat memberikan jaminan keamanan pangan mulai bahan baku hingga produk akhir hasil budidaya yang bebas dari bahan cemaran sesuai persyaratan pasar. Sehingga dapat meningkatkan kepercayaan produsen kepada konsumen, yang nantinya akan memiliki daya saing terhadap produk yang dihasilkan. Yang penting untuk diperhatikan dalam memperoleh sertifikat ini, seluruh tahapan dalam budidaya ikan seperti sanitasi dan pengendalian yang bertujuan dalam upaya mencegah tercemarnya hasil perikanan budidaya dari berbagai bahaya keamanan pangan seperti bakteri, racun hayati (biotoxin), logam berat serta pestisida, maupun residu bahan terlarang (antibiotik, hormon, dsb).
Adapun kendala yang dialami Raja Lele saat ini adalah berkaitan dengan sarana transportasi. Selama ini produksi yang dihasilkan tidak bersamaan. Sehingga hasil panen diperoleh dari beberapa anggota kelompok untuk kemudian dikumpulkan dan dijadikan satu, dan selanjutnya didistribusikan ke daerah tujuan. Sarana pendistribusian biasanya berupa truk (untuk muatan besar) dan pick-up (untuk muatan kurang dari 5 ton). Dalam satu bulan, pengangkutan hasil panen dapat dilakukan hingga beberapa kali. Hal ini akan menambah biaya produksi karena belum adanya sarana pengangkutan.
Dengan tingkat padat tebar yang tinggi disertai manajemen budidaya yang baik serta adanya sertifikat CBIB, Raja Lele akan memiliki daya saing tinggi baik di daerah maupun secara nasional.*(Sumber: http://www.perikanan-budidaya.kkp.go.id)
27.3.11
Mulai dengan 'Ilmu Katanya'
HARI itu, akhir 2009. Berbekal lahan milik kawan di Kab. Bogor, Jawa Barat, PL mulai maen lele. Tiga petak kecil kolam semen berdiri. Biayanya sekitar Rp 3 juta. Benih dari pasar Parung ditebar. Hasilnya: nol besar!
Apa pasalnya? Jawabnya, jelas. PL bersama rekan sekampung pemilik lahan, menerapkan teknologi budidaya berbasis 'ilmu katanya'. Ya, kami menerapkan cara budidaya yang diceritakan tetangga yang berkunjung ke kolam. Inti ilmunya yakni memelihara lele tidak sulit. Semakin jorok media kian baik.
Maka jadilah kolam kami bau luar biasa. Nyaris semua sampah pasar tumpah ke kolam. Sampah sayuran, ikan, bangkai ayam, dll. Hari pertama lele belum bermasalah. Tiga hari kemudian satu-dua lele terlihat 'zikir' alias berdiri di tepi kolam saja. Dia malas berenang. Keesokan hari mengambang. Dan, esok demi esok kian banyak hingga tiada lele yang dipanen.
Menyerahkan PL? Tidak! Seorang tetangga suatu hari mengajak kami ikut pertemuan di Cibinong yang menghadirkan Abah Nasrudin, pembudidaya lele Sangkuriang di Gadok, Jawa Barat. PL jadi teringat pernah membaca profilnya di koran Kompas. Di sana terdapat satu kolam contoh budidaya lele Sangkuriang.
Dari pertemuan tersebut dan melihat kolam contoh, saya sadar telah menjalankan cara berbudidaya lele yang keliru beberapa bulan sebelumnya. PL-pun yakin dapat menerapkan metoda yang dikembangkan Abah Nasrudin.
Belakangan PL berinteraksi dengan keluarga Abah Endang, juga pembudidaya lele Sangkuriang di Gadok yang lumayan sukses. Di sini saya belajar banyak. Hingga kini PL telah setahun berbudidaya lele Sangkuriang (pembesaran). Dan, sebulan terakhir mulai membuka lapak pembenihan setelah membeli indukan asli lele Sangkuriang dari balai benih.
Intinya, keliru belajar berdasar informasi 'katanya'. Kita perlu melihat langsung teknik budidaya yang diterapkan rekan pembudidaya yang lebih dulu. Lalu kita terapkan dan kembangkan di lahan sendiri.*
Apa pasalnya? Jawabnya, jelas. PL bersama rekan sekampung pemilik lahan, menerapkan teknologi budidaya berbasis 'ilmu katanya'. Ya, kami menerapkan cara budidaya yang diceritakan tetangga yang berkunjung ke kolam. Inti ilmunya yakni memelihara lele tidak sulit. Semakin jorok media kian baik.
Maka jadilah kolam kami bau luar biasa. Nyaris semua sampah pasar tumpah ke kolam. Sampah sayuran, ikan, bangkai ayam, dll. Hari pertama lele belum bermasalah. Tiga hari kemudian satu-dua lele terlihat 'zikir' alias berdiri di tepi kolam saja. Dia malas berenang. Keesokan hari mengambang. Dan, esok demi esok kian banyak hingga tiada lele yang dipanen.
Menyerahkan PL? Tidak! Seorang tetangga suatu hari mengajak kami ikut pertemuan di Cibinong yang menghadirkan Abah Nasrudin, pembudidaya lele Sangkuriang di Gadok, Jawa Barat. PL jadi teringat pernah membaca profilnya di koran Kompas. Di sana terdapat satu kolam contoh budidaya lele Sangkuriang.
Dari pertemuan tersebut dan melihat kolam contoh, saya sadar telah menjalankan cara berbudidaya lele yang keliru beberapa bulan sebelumnya. PL-pun yakin dapat menerapkan metoda yang dikembangkan Abah Nasrudin.
Belakangan PL berinteraksi dengan keluarga Abah Endang, juga pembudidaya lele Sangkuriang di Gadok yang lumayan sukses. Di sini saya belajar banyak. Hingga kini PL telah setahun berbudidaya lele Sangkuriang (pembesaran). Dan, sebulan terakhir mulai membuka lapak pembenihan setelah membeli indukan asli lele Sangkuriang dari balai benih.
Intinya, keliru belajar berdasar informasi 'katanya'. Kita perlu melihat langsung teknik budidaya yang diterapkan rekan pembudidaya yang lebih dulu. Lalu kita terapkan dan kembangkan di lahan sendiri.*
11.3.11
Jual Benih Lele Sangkuriang
SETAHUN merintis usaha budidaya lele Sangkuiriang (pembesaran), PL sejak Februari 2011 melebarkan sayap: pembenihan. Bagi petani lele di Depok dan sekitarnya yang membutuhkan benih atau bibit asli lele Sangkuiriang, silakan ke kolam PL.
Lokasinya di Jl. Samudera Jaya, Kelurahan Rangkepan Jaya, Kecamatan Pancoran Mas, Depok. Tak jauh dari kantor Kelurahan Rangkepan Jaya. Atau, jangan ragu, telepon PL: 021-96064188 (klik ini).
Harga benih per ekor ukuran 2-3 Rp 90, 3-4 Rp 110, 4-5 Rp 130, 5-6 Rp 150, 7-8 Rp 200.*
Subscribe to:
Posts (Atom)