Pages

10.11.11

Teknik Pembuatan Kolam Terpal Gali


SETIDAKNA terdapat dua jenis kolam terpal: 'tenggelam' dan 'terapung'. Kolam yang pertama maksudnya di bawah permukaan tanah, sementara yang kedua di atas. Dengan demikian, teknik pembuatan kolam terbagi atas: menggali dan tidak menggali. Kolam gali berdinding tanah. Sedangkan kolam 'terapung' biasanya berdinding bambu atau bahkan permanen (semen).
Pada kolam gali (untuk budidaya pembesaran), jangan membayangkan pengerjaannya sangat berat. Bila dinding kolam harus 120 cm --ketinggian air 110 cm)-- kedalaman gali hanya sekitar 60 cm. Pasalnya tanah galian yang diangkat sekaligus menjadi dinding ke atas (galangan).
Hal yang perlu dicermati, tanah yang digali jangan tepat di sisi bidang luasan kolam. Bila Anda menarik benang untuk menandai petakan kolam yang hendak dibuat, tanah yang digali paling tidak berjarak 20 cm. Artinya, terdapat bidang tanah selebar 20 cm sisi benang ke dalam yang tidak langsung jadi sasaran cangkul.
Teknik ini dimaksudkan agar pekerja tidak memboroskan tenaga. Sementara hasilnyapun lebih kokoh. Mengapa? Bila menggali tepat di sisi benang, maka galangan yang terbentuk dipastikan berasa di sisi luar benang. Akibatnya, pekerja harus menambal dinding saat pengerjaan terakhir. Tambalan tersebut pasti rawan longsor.
Teknik yang benar yakni tanah diangkat langsung dipadatkan dengan menginjak-injak. Biarkan tanah memadat hingga ke dalam melewati bentangan benang. Tahap itu terus dilakukan hingga diperoleh ketinggian yang dikehendaki dan bidang dasar kolam rata. Setelah ketinggian cukup, dinding dipapras memakai cangkul. Dinding yang diperoleh berasal dari tumpukan tanah padat, bukan tempelan.
Kolam gali terbagi dua jenis dari sisi gantungan terpalnya. Ada yang memakai bentangan bambu bulathingga terpal menjorok di atas tanah. Biasanya antara 10 hingga 20 cm. Cara lain, ujung terpal cukup dijepit atas tanah melewati bibir kolam.
Kedua cara memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang memakai bambu, hama seperti ular tidak leluasa masuk ke kolam. Kekurangannya, terpal yang melintasi bambu gampang sobek akibat diterpa sinar matahari. Hal terakhir tidak terjadi pada kolam yang tidak memakai bambu (dan sedikit menghemat biaya), namun kekurangannya hama relatif mudah masuk kolam. Untuk mencegahnya, lingkungan sekitar kolam harus bersih. Penulis sendiri belakangan memakai tidak memakai bambu.*

8.11.11

Petani Bambu Jatiluhur Tersingkir di Kampung Sendiri


JATILUHUR bukan semata soal waduk. Di seberang waduk yang duduk sekitar sembilan kilometer dari pusat Kab. Purwakarta, Jawa Barat, punya hutan bambu. Kawasan pepohonan bambu dimaksud bagian kekayaan tanah air yang memiliki sekitar 200 jenis bambu.
Hutan bambu terletak di Sukasari, salah satu kecamatan yang beberapa tahun lalu terisolir. Tak pelak karena sebelum akses jalan darat dirintis, Sukasari hanya dapat dijangkau dengan menyeberangi waduk Jatiluhur berjam-jam.
Kini, tantangan bagi Pemkab Purwakarta guna mempercepat pengentasan kemiskinan di Sukasari, tak lain dengan mengoptimalkan potensi tak kurang 20 ribu hektar hutan bambu sebagai katrol ekonomi. Warga setempat memang selama ini hanya menekuni budidaya bambu di lahan Perhutani. Mereka minim lahan sendiri dan tak terbiasa dengan komiditas lain.
Salah satu desa yang masyarakat nyaris total bergantung budidaya bambu yakni Kutamanah, pusat Kec. Sukasari. “Kutamanah dulu hanya ada belukar. Kami pindahan beberapa kampung sekitar dua kilometer dari sini. Kami pindah 1971 karena desa ditenggelamkan waduk,” ungkap Omo, 65 tahun, sesepuh kampung Ciputat, Sukamanah.
Di Sukamah terdapat tiga blok hutan bambu yang totalnya 385 hektar. Data Resort Pemangkuan Hutan Parang Gombong yang membawahi kawasan hutan setempat menyebutkan, di sini hidup 118 kepala keluarga petani bambu. “Masyarakat memang diizinkan menanam bambu di lahan milik Perhutani,” jelas Kepala Resort Pemangkuan Hutan Parang Gombong Andi Kusnadi.
Omo dan Dudung, ketua RT 12/05 Desa Sukamanah, menceritakan, warga mengembangkan budidaya bambu bukan tanpa alasan. Awalnya, warga menanam tumbuhan menjulang ini untuk kebutuhan pembuatan rumah sendiri, walaupun pihak Perhutani melarang. Belakangan masyarakat serius berbudidaya bambu karena penanganannya mudah, nyaris tanpa biaya operasional khusus, dan cepat menghasilkan dibanding tanaman kayu --mulai dipanen setelah lima tahun.
“Dahulu warga menanam bambu sembunyi-sembunyi. Hasilnya sekarang ada 40 ribu lebih rumpun bambu, sebagian besar di Ciputat Wetan, yakni sekitar 22 ribu rumpun,” tandas Dudung yang juga pengurus Lembaga Masyarakat Desa Hutan Bambu Jaya, Sukamanah.
Menggambarkan manfaat ekonomi hutan bambu, Dudung mengatakan satu keluarga yang memiliki 100 rumpun bambu siap panen dapat mengantongi sekitar Rp 200 ribu per bulan. Hasil ini dari penjualan sebatang setiap rumpun dengan harga Rp 2.000/batang.
Tak besar memang, namun warga masih mengantongi pendapatan tambahan dengan menjadi pekerja saat pemanenan dan pengangkutan bambu. Dari sini seorang kuli dapat penghasilan hingga Rp 100 ribu setiap hari.
Angka kecil hasil penjualan bambu di atas bukan sama sekali tidak menarik. Bagi pelaku usaha skala menengah ke atas, budidaya tanaman yang kebanyakan untuk bahan bangunan di Jabodetabek ini tetap menggiurkan. Betapa tidak, aliran pemasukan pengusaha tersebut mudah dihitung dengan kepemilikan ribuan rumpun bambu.
Inilah salah satu ironi masyarakat kampung bambu di Jatiluhur. Kini, ratusan ribu rumpun bambu tak lagi dimiliki warga setempat. Dengan kata lain, pengusaha berduit dari kota, telah menjadi penguasa baru di kawasan hutan bambu. Sementara warga desa satu demi satu menjadi penonton.
“Ada keluarga miskin yang cuma punya 20 rumpun, sementara yang kaya miliki lima ribu rumpun. Bahkan ada yang puluhan ribu rumpun,” ujar Dudung.
Pekerjaan rumah bagi dinas terkait Pemkab Purwakarta --sebelum petani bambu benar-benar tergusur dari kampung halamannya-- yakni megintensifkan pelaksanaan rencana program pariwisata kampung bambu Jatiluhur. Toh, ini memperkuat kepariwisataan waduk Ir. H. Juanda.
Dan, satu lagi, terkait dengan program pariwisata dimaksud, pemerintahan setempat wajib serius membuka akses pasar bagi kerajinan bambu warga Sukasari dan sekitarnya. Jangan hanya di tataran upacara. “Bukan tidak butuh pelatihan pembuatan kerajinan bambu namun lebih penting dibukakakan pasarnya. Ini yang dilupakan pemerintah Purwakarta,” Dudung prihatin.*