Minggu, 24 Mei 2009, bocah Raditya Fajar Adinawari genap empat tahun. Seperti kebanyakan orangtua, Darmawan Edwin Sudibyo dan Dian Fara Oktarina, mengajak sang bocah bersama dua kakaknya –Geraldino Krisna Akbar dan Muhammad Athaa— ke Puncak, Bogor, Jawa Barat.
Melengkapi kebahagian sang anak, kakek mereka, Syahrul Malik, berusia 75, pun digandeng. Lagi-lagi demi kesenangan buah hari, ibunya tak peduli sedang hamil lima bulan. Ia menembus penatnya lalulintas macet Jakarta-Puncak saat hari libur. ”Kami senang sekali sebenarnya hari itu,” kata Edwin.
Usai menikmati alam dan makan siang rombongan menuju Jakarta, sekitar pukul 16.00. Nah, seperti biasa, saat arus lalulintas padat, polisi memberlakukan rekayasa satu arah lalulintas dari Puncak ke Jakarta.
Edwin-pun membawa Nissan X-Trail-nya, di lajur kanan. Padatnya “arus mudik” menyebabkan macet. Tak lama meninggalkan Puncak Pas, dari arah belakang terdengar sirene vorrijder yang membawa konvoi pengendara motor besar/gede (moge) di lajur kanan.
Edwin berusaha ke lajur kiri untuk memberi ruang lebih bagi konvoi. Setelah vorrijder dan konvoi lewat dan tak muncul lagi moge lainnya, mobil-mobil yang semula agak masuk ke lajur kiri kembali ke kanan, begitu juga mobil Edwin.
Rupanya masih ada rombongan moge yang tertinggal. Rombongan sepedamotor seharga mobil itu tertahan. Namun, Edwin tak bisa pindah lagi ke lajur kiri karena kondisi jalan amat padat. Saat itulah kembali arogansi pengendara moge mencuat dan memakan korban.
Beberapa peserta konvoi langsung memukuli mobilnya. Ketika Edwin membuka jendela mobil untuk bertanya mengapa mobilnya dipukul, sebuah bogem malah mendarat di pipi kanannya yang menyebabkan lebam.Tidak cukup meninju, pelaku memaki dan meludahi korbannya.
Istri Edwin dan anak-anaknya histeris. Mereka tak sanggup berbuat apa-apa melihat suami dan sang ayah dianiaya.
Mengapa rombongan moge cenderung arogan, merasa sebagai warga nomor satu di jalan raya?
Beberapa faktor yang melatarinya. Salah satunya, mereka merasa berada di kasta tertinggi saat di jalan raya. Maklum harga moge-nya termahal dibanding pengendara lalin. Lihat pula penampilannya yang wah.
Namun, faktor lain yang patut digarisbawahi, arogansi mereka juga disebabkan perlakukan istimewa aparat kepolisian terhadap mereka selama ini. Bukan rahasia, polisi kadang memperlakukan rombongan moge berbeda dengan yang lain. Mereka tidak tersentuh hukum meski melanggar aturan.
Bukan tanpa sebab. Boleh jadi keberadaan pejabat Polri, yang masih dinas maupun pensiun, sebagai pelindung komutas pecinta moge, yang memicu keistimewaan tersebut. Karenanya, dalam suasana Hari Bhayangkara, sangat patut bila para pejabat Polri “mempertimbangkan” kembali keberadaan mereka di tengah gerombolan bermotor moge.*(Read1)
No comments:
Post a Comment