4.11.08
FEATURE: Perempuan Pekerja; Menantang Maut Menjajakan Ikan
JAKARTA (JC) - Tidak banyak yang tahu, ratusan ton ikan segar yang dikonsumsi warga jakarta dan sekitarnya, setiap hari, hasil kerja keras kaum ibu. Mereka penjual ikan eceran di pasar-pasar tradisional, yang bekerja nyaris dua puluh jam sehari, bahkan menantang maut.
Jual-beli ikan segar di pasar tradisional menggeliat sejak pagi buta. Di pasar Kemiri Muka, Depok, pembeli mulai ramai sejak pukul 03 pagi. Aktivitas sama juga berlangsung di pasar tradisional lain, di seantero Jabodetabek. Memang, berbelanja semakin pagi memungkinkan konsumen membeli ikan jauh lebih segar dibanding saat ke pasar pada siang hari.
Roda pasar ikan Muara Angke, Jakarta Utara, nyaris tak pernah berhenti berputar. Puncaknya, menjelang tengah malam, hingga dini hari. Kaum ibu penjaja ikan mulai tiba di areal pelelangan ikan muara angke, sejak sore. Jumlah mereka tak kurang lima ratusan. Pada tengah malam para ibu semakin ramai. Mereka menyatu dengan pedagang besar, yang sebagian besar pria.
Di pasar Muara Angke, segala jenis ikan laut tersedia. Ikan-ikan ini dijamin segar karena masuk ke areal pelelangan sesaat diturunkan dari armada nelayan. Dan berkat tangan-tangan ulet perempuan pekerja, ikan-ikan segar tiba di pasar-pasar tradisional.
Usai belanja, dagangan yang dimasukkan ke ember berdasar jenisnya. Selanjutnya didistribusikan dengan mobil. Satu kendaraan rata-rata mengangkut ikan milik lima pedagang. Biaya angkut dihitung berdasar jumlah bawaan, yakni Rp 4.000 per ember.
Kerja ekstra kaum perempuan pekerja yang menantang maut, terlihat saat mereka meninggalkan pelelangan menuju pasar tempat masing-masing menjajakan ikan. Beberapa malam lalu, JC mengikuti kelompok penjual ikan tengah menuju pasar Bogor. Membawa dagangan yang memenuhi mobil dan menempuh perjalanan cukup jauh, kaum ibu tertidur di ujung belakang mobil. Hanya seutas tadi yang dililitkan ke lengan, sebagai pengaman. Sementara para pembantunya yang pria, berakrobat di atap mobil tanpa pengamanan sedikitpun.
Kelompok pedagang ikan di pasar Kemiri Muka, Depok, idem dito. Mereku juga tanpa sadar menggadaikan nyawanya untuk menghidupi keluarga. Sofiah kepada JC mengatakan telah melakoni pekerjaan super berat ini selama lima belas tahun. Ia menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga setelah suaminya terjatuh dari mobil saat membawa dagangannya, tiga tahun lalu.
Sekitar pukul 02 dini hari, ikan dari Muara Angke tiba di puluhan pasar tradisional di Jabodetabek. Selanjutnya mereka menggelar dagangan rata-rata hingga pukul 12 siang. Kaum ibu penjual ikan tak pernah berteriak perlunya hak emansipasi wanita ditegakkan. Namun, lebih sekadar penerapan emansipasi, mereka bahkan menjadi tulang punggung keluarga, meski bekerja ekstra berat. Erekalah perempuan pejuang.*** (rdw)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment