8.11.08
MEDIA: ANTV Need Change!
Usai badminton pukul 10 WIB, saya tak segera menguyur tubuh setiba di rumah. Padahal keringat yang mengering terasa seperti getah karet yang dilulur tipis di badan. Saya justru menarik buku Veven Sp Wardhana, 'Kapitalisme Televisi dan Strategi Budaya Massa' (1997), yang bertumpuk tak beraturan di rak.
Di daftar isi terdapat tiga judul yang menyinggung langsung ANTV. Di situ masih ditulis ANTEVE. Ingat tahun penerbitan buku cetakan pertama tersebut? Pertama, AN-TEVE = ANT + EVE = malam bersemut. Kedua, AN-TEVE + MTV = ya, AM-TEVE atau AMTEVE. Ketiga, AN-Teve, AN-Telesinema. Banyak informasi ANTV tempoe doeloe di ketiga tema. Menarik. Saya menggarisbawahi banyak soal di tema pertama.
Veven tegas mengupas layar ANTEVE yang bersemut akibat teknologi pancarnya yang ketinggalan zaman. Padahal tayangannya memiliki penonton fanatik, khususnya produk musik impor. Begitu pula game show seperti Family Feud, animasi Hello Kitty's Furty. Juga film-film Sabtu Seru. Singkatnya Veven --tentu juga penonton kebanyakan-- menyanyangkan buruknya kekuatan pancar ANTEVE, sehingga program yang kuat nyaris tak berarti apa-apa karena diterima bersama tebaran semut di layar kaca. Pada saat yang sama INDOSIAR muncul dengan teknologi penyiaran digital.
Veven lalu memaparkan perolehan share empat stasiun: RCTI, SCTV, TPI, dan ANTEVE per 12 Januari 1995. Perolehan tayangan ANTEVE sejak pukul 05.30 sampai 17.00 WIB meraih nol persen. Disebutkan, hanya program Prima Raga yang meraih poin 1 persen. Sementara perolehan stasiun lain mencapai dua digit. Kuis Pelangi (RCTI) 16 persen, Kassandra (SCTV) 14 persen. Film Indonesia Senja di Pantai Losari (TPI) 13 persen.
Kelemahan ini tentu disadari penuh manajemen ANTEVE. Peningkatan kualitas teknologi dilakukan. Namun, kompetitor telah melangkah, bahkan lari, jauh di depan. Pada saat yang sama mata penonton telah kepincut di layat televisi tetangga.
Apakah ANTV hari ini berhasil mengatasi ketertinggalan tersebut? Ada peningkatan namun tetap di belakang punggung televisi yang lain. Karenanya tugas berat manajemen sekarang berganda bila hendak menjadi stasiun terdepan. Pertama, perlu melakukan lompatan dahsyat dalam hal penerapan teknologi. Kedua, kualitas program (visi, penggarapan, dan kemasan) harus di atas rata-rata sebab mata penonton selama belasan tahun telah terikat warna program stasiun lain.
Penulis buku menggarisbawahi problem mendasar lain ANTEVE. Selain masalah teknologi, stasiun yang awal kiprahnya di Lampung ini, tak jelas segmentasinya. Saat itu ANTV disebut sebagai televisi remaja dan sport. Namun programnya (hiburan) jalan di luar koridor. Begitu pula program beritanya, kata Veven. Laporan ANTEVE Petang misalnya sama sekali tak menunjukan penguatan pada karakter/jenis kelamin ANTEVE seperti yang diproklamirkan. Apa segmentasi/karakter/jenis kelamin ANTV sekarang?
Nah, yang menyedihkan sekarang: problem berat lama tersebut masih menggelayut di layat ANTV sekarang. Bahkan setelah logo STAR ditambah di sisi kiri. Petinggi lokal maupun impor dari Group StarTV ternyata belum dapat berbuat apa-apa untuk menyelesaikan dua pilar masalah ANTV.
ANTV butuh figur seperti Barack Obama yang diyakini mampu melakukan perubahan di AS sana. ANTV need change! Anda, tim manajemen dan atau karyawan ANTV mampu? (Read1)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment