Pages

3.11.08

OPINI: Jika Media Massa Menjadi Bisnis Raksasa (Pelajaran dari The Insider)

Oleh Hamid Basyaib

Dr. Jeffrey Wigand dipecat tanpa alasan patut setelah tiga tahun mengepalai Divisi Penelitian & Pengembangan Brown & Williamson Tobacco, perusahaan rokok terbesar ketiga di Amerika Serikat. Pada sekitar waktu yang sama, Lowell Bergman, produser 60 Minutes CBS ingin menyelidiki insiden kebakaran di Kanada yang terkait dengan rokok produk Philip Morris. Lowell mengontak Wigand untuk berkonsultasi tentang aspek-aspek teknis industri rokok.

Dalam pertemuan pertama dengan Wigand, hidung jurnalistik Lowell mulai mencium ketidakberesan dalam fakta pemecatan Wigand, yang merangkap wakil presiden B & W. Minatnya pun memusat pada kasus Wigand dan B & W, bukan lagi pada kebakaran di Kanada itu. Indikator kecurigaannya jelas: Wigand mengungkap bahwa ia terikat perjanjian perahasiaan perusahaan (confidentiality) dengan bekas tempatnya bekerja. Pertanyaan di benak Lowell sederhana saja: Kalau memang tidak ada sesuatu yang tak beres, mengapa B & W perlu membuat perjanjian semacam itu dengan bekas pegawainya –- hal yang ditekankan secara serius oleh Wigand, membuat Lowell mencium ketidakbeseran makin keras. Produser majalah televisi paling terpandang itu punya alasan bagi kecurigaannya pada industri yang posisinya semakin kontroversial di Amerika.

Khawatir Wigand “menyanyi” di luar, Presiden B & W Thomas Sandefur -– yang baru saja bertestimoni di Kongres bersama enam industriawan rokok lainnya bahwa nikotin tidak membuat perokok kecanduan -– memanggil Wigand. Ia menekan Wigand agar menandatangani perluasan perjanjian konfidensialitas, meliputi aspek-aspek yang lebih luas dan lebih terinci. Jika Wigand tak mau meneken klausul baru itu, bukan hanya pembayaran pesangonnya akan dihentikan, tapi ia bahkan bisa dituntut jika B & W menilai bahwa ia telah melanggar perjanjian, meski tanpa menandatangani klausul tersebut. Wigand mengerti apa arti ancaman itu: Perusahaan rokok seraksasa B & W selalu menang dalam berperkara.

Wigand menuduh Lowell mengkhianatinya, dengan membocorkan pada B & W bahwa ia mungkin akan mengungkap banyak cerita dapur perusahaan itu, lalu menghentikan kontak sama sekali. Lowell membantah dengan menandaskan reputasi dirinya dan kredibilitas 60 Minutes; ia justeru sedang sibuk menyelidiki latar-belakang Wigand, guna mengukur dan mengetahui kredibilitas sang calon narasumber. 60 Minutes menjadikan penelitian latar-belakang narasumbernya sebagai ritual wajib yang tak mungkin dilewati.

Kontak Lowell dan Wigand terjalin lagi. Bahkan wawancara pertama dengan Wigand sudah direkam, dengan pewawancara legendaris 60 Minutes, Mike Wallace. Editing dilakukan oleh Lowell. Penayangan gambar-gambar, di antara percakapan dan narasi, dilakukan dengan cara standar 60 Minutes yang kerap amat mencekam dan memaku pemirsa di kursi mereka: pernyataan presiden B & W di bawah sumpah di Kongres tentang tak adiktifnya nikotin, segera dikonfrontasikan dengan pernyataan otoritatif Dr. Jeffrey Wigand.

Kepada Wallace, yang terkenal lugas dan membuat pemirsa seolah berhadapan sendiri dengan narasumbernya, Wigand bahkan menguraikan latar-belakang pemecatannya dari B & W. Perusahaan itu disebutnya memproduksi “alat pengirim nikotin”. Dan nikotinnya diberi “impact booster”, suatu zat kimia yang mempercepat sampainya nikotin ke otak, menimbulkan daya rusak yang hebat pada sistem syaraf, dan tentu saja menimbulkan kecanduan pada perokoknya. Wigand menentang penggunaan impact booster ini, tapi kafilah manajemen B & W tetap berlalu. Sebelum kasus ini, menurut Wigand di depan kamera, ia juga berselisih dengan bosnya gara-gara zat camourin. Zat kimia ini setara dengan kastrogen dalam daya rusaknya terhadap paru-paru. Wigand mendesak manajemen agar menarik seluruh produk yang mengandung camourin. Gonggongan Wigand tak membuat kafilah B & W berhenti.

Seiring kian santernya isu ini tercium oleh hidung pers, meski wawancara 60 Minutes itu belum ditayangkan, keselamatan Wigand makin terancam. Kehidupan pribadi dan rumah tangganya terhuyung. Isterinya, tak tahan menghadapi teror-teror yang tak pernah terbukti siapa pelakunya, minta cerai. Kejatuhan profesional Wigand tertimpa tangga kehancuran kehidupan personalnya -– hal-hal yang membuat emosinya terguncang-guncang dan menjadikan hubungannya dengan Lowell dan 60 Minutes sangat berfluktuasi.

Antiklimaks kisah nyata ini merupakan kekalahan telak bagi Wigand dan Lowell. CBS Corporation yang membawahi CBS News memutuskan pembatalan penayangan wawancara dengan Wigand dalam kasus B & W.

Penasihat Hukum CBS Corp., Capirelli, dengan elegan menginformasikan bahwa perjanjian konfidensialitas antara Wigand dan B & W itu juga menyangkut pihak ketiga. “Jika dapat dibuktikan bahwa pemaparan oleh Wigand itu karena anjuran atau bujukan pihak ketiga,” kata Capirelli, “maka pihak ketiga itu pun dapat dituntut karena melakukan campur tangan yang merugikan” (torture interferences). Tekanan adalah tekanan. Elegansi dan kecantikan Miss Capirelli tak mengubah tekanan itu menjadi sesuatu yang menyenangkan. B & W sudah jelas mengembuskan kemungkinan mereka menuntut CBS Corp. miliaran dolar, suatu jumlah yang, menurut Capirelli, “akan membuat B & W memiliki CBS”.

Lowell tak menyerah. Dia justeru menyelidiki sikap gentar perusahaannya yang tak lazim ini, dan menemukan bahwa CBS sedang listing di pasar saham, dan kenaikan saham yang sudah di depan mata antara lain akan membuat Capirelli mendapat US$ 1,4 juta serta atasannya Eric Kustler meraih US$ 3, 6 juta. Pemerkaraan CBS Corp. ke pengadilan tentu saja akan memerosotkan nilai saham raksasa media itu, sesuai hukum besi yang selalu berlaku dalam bisnis saham. Tapi pengungkapan Lowell atas fakta ini tak mengubah apapun -– dia kemudian malah dipecat secara halus dengan disuruh berlibur; dan akhirnya mengundurkan diri dan pindah kerja ke Frontline PBS selain mengajar jurnalistik di Universitas California di Los Angeles.

Wawancara Wigand yang, menurut Lowell, “bakal mempengaruhi 30 juta pemirsa” itu dibatalkan. Aspek yang paling memukul perasaan Lowell adalah menyerahnya Mike Wallace, legenda yang telah 14 tahun menjadi mitranya dalam 60 Minutes. Alasan yang dikemukakan Wallace sepenuhnya manusiawi: setelah setengah abad ia menyajikan karya-karya terbaik jurnalistik, sisa hidup dari usianya yang sudah 78 tahun ingin dijalaninya dengan tenang. Wallace, yang sudah mewawancarai Martin Luther Jr., Anwar Sadat, Saddam Hussein, Syekh Fadallah, Malcolm X, dan menyajikan puluhan peristiwa bersejarah lainnya, ingin mengakhiri karir jurnalistik gemilangnya dalam ketenangan.

“Orang akan melihat apa yang kita lakukan terakhir kali,” katanya, “bukan prestasi-prestasi kita di masa lalu”. Dan dia tak ingin hancur karena tindakan terakhir kali itu: Menjadi penyebab keruntuhan CBS Corp.

Wallace tahu apa yang dilakukan Lowell: Menyajikan latar-belakang skandal pembatalan penayangan wawancara Wigand itu pada The New York Times. Ia cuma bisa memberitahukan pada Lowell bahwa beritanya dimuat di halaman muka, dan bahwa editorial koran besar itu menyebut timnya telah mengkhianati warisan Edward Murrow; suatu tuduhan teramat pahit bagi reputasi bersih Wallace yang sangat panjang, tapi sangat sukar dibantah.

Wallace dengan getir hanya mampu mengingatkan Lowell dan siapapun yang berkepentingan, tapi tak selamanya sanggup ia ungkapan dengan kalimat, bahwa dirinya bukan seperti yang didakwakan oleh editorial New York Times itu. Ketika atasannya, Don Hewitt, marah berat dan menuduh Lowell berkhianat dengan mengungkapkan rahasia pembatalan penayangan itu, Wallace malah mengingatkan Hewitt bahwa CBS News memang salah.

Wigand makin serius menekuni karir barunya sebagai guru kimia dan bahasa Jepang di SMU Du Pont, dan kemudian dinobatkan sebagai Guru Terbaik di Negara Bagian Kentucky.

Matahari kembali bersinar seperti biasa. CBS Corp. beserta CBS News-nya tetap jaya. Bahkan, kata seorang petingginya, “kita mengalahkan semuanya -– ABC, NBC, CNN” dalam eksklusifitas berita tertangkapnya pelaku pengeboman Unabomber. Tapi sebuah kebenaran penting urung terungkap.

***

Dengan kadar dan keseriusan yang tak selalu sedilematis yang dihadapi tim 60 Minutes, sesungguhnya semua wartawan setiap hari berhadapan dengan dilema serupa. Yang dihadapi Lowell memang lebih serius daripada sekadar keharusan menegakkan “pagar api” -– pemisahan total antara kepentingan bisnis/periklanan dengan penjunjungan prinsip jurnalistik serta kemandirian redaksi.

Sejumlah hal layak dicermati dari kasus Wigand dan 60 Minutes.

Pertama, pemastian kredibilitas narasumber (interviewee). Produser Lowell Bergman berulang kali “menginterogasi” Wigand untuk mengetahui latar-belakang sang narasumber. Ini memang aspek yang tak menyenangkan terutama bagi narasumber, tapi kepentingan yang jauh lebih besar mengharuskan produser melakukannya. Bahkan, ketika muncul upaya sistematis B & W untuk menghancurkan kredibilitas Wigand, dengan data 500 halaman yang disampaikan kepada pers, Lowell menyewa penyelidik untuk menguji apakah data negatif tentang Wigand itu benar adanya.

Reputasi dan kredibilitas narasumber ini memang inti terpenting. Sebab jika kedua hal itu tak bisa dijamin, seperti kata Lowell pada Wigand, “Semua pernyataan Anda tak akan ada gunanya –- semua!”

Kedua, tanggung jawab atas keselamatan narasumber; secara hukum dan sosial, bahkan secara fisik. Lowell mengupayakan agar Wigand bersaksi di pengadilan yang sedang menyidangkan kasus serupa di Negara Bagian Missisipi. Tujuannya agar kesaksian itu bisa dijadikan preseden, dan keputusan pengadilannya bisa dijadikan semacam yuriprudensi, kalau kelak Wigand dituntut oleh B & W. Meski hal ini belum tentu punya kekuatan hukum, namun ia bisa ikut membantu meminimalkan risiko yuridis bagi Wigand, selain dapat dijadikan kekuatan untuk menggalang opini publik. Lowell juga menyediakan tiga pengawal bagi Wigand dan keluarganya di rumah.

Ketiga, pentingnya memperjuangkan kemerdekaan redaksional. Landasannya: keharusan menjaga kredibilitas jurnalistik dan penunaian hak publik akan informasi (apalagi informasi yang bersifat langsung berhubungan dengan kesehatan masyarakat). Lowell tidak berkeras kepala ataupun menyerah begitu saja. Ia mau mencoba meyakinkan dan bahkan meneliti para koleganya dari departemen bisnis, dengan seperangkat argumen dan data. Bahwa ia akhirnya tetap kalah, itu tak menghapus perlunya memperjuangkan hal ini, bahkan setiap hari.

Perjuangan semacam ini dapat dilakukan dengan penuh percaya-diri hanya dengan martabat, kredibilitas dan integritas seorang jurnalis; dengan kesadaran bahwa jika bukan mereka sendiri, tak akan ada orang lain yang mau berinisiatif menghormati pilihan karir/hidup sebagai penyaji “the first draft of history” (Philip Graham, The Washington Post).

Ketiga, kesediaan bekerja sama dengan rekan media lain (namun tetap bukan dengan media sejenis atau kompetitor). Reputasi Lowell menjamin bahwa permohonannya agar reputasi negatif Wigand ditunda pemuatannya (oleh Wall Street Journal) dipenuhi. Malah Journal, setelah melakukan pengecekan silang berdasar petunjuk Lowell, kemudian memuat berita yang berlawanan dengan niatnya semula (yang bersandar pada laporan 500 halaman berisi catatan negatif tentang reputasi Wigand). Koran itu menulis bahwa tudingan-tudingan terhadap Dr. Jeffrey Wigand ditopang oleh bukti-bukti yang bertentangan.

Dalam hal semacam ini Lowell tidak merasa berkhianat terhadap CBS News. Ketika ditegur oleh Hewitt, ia menandaskan bahwa dirinya “tidak akan berbohong tentang Anda, dan tak akan menutup mulut demi Anda”. Ia malah menyebut Hewitt-lah yang telah berkhianat, karena sementara semua orang sudah tahu, dan banyak media sudah memberitakannya, ia terus menutup-nutupi kasus Wigand. Toh, “kolusi sehat” semacam ini memang selalu bisa diperdebatkan.

***

“Ini negeri besar, dan kau bisa bekerja di tempat lain,” ujar Ny. Lowell, menghibur suaminya yang menyatakan akan segera keluar dari CBS. “Di sini toh ada kebebasan pers...”. Lowell menimpali: “Kebebasan itu hanya dipunyai oleh pemilik (perusahaan pers)”.

Dan dengan itu Lowell meringkas seluruh perkara kebebasan pers dalam sebuah demokrasi: Pers sanggup independen dari kekuasaan politik negara, tapi kebebasan itu seakan serentak diiringi oleh hantu baru yang mungkin lebih menyeramkan, yaitu kekuasaan pemilik perusahaan, suatu entitas sosial-ekonomi yang beroperasi atas dasar kekuatan modal mayoritas pemilik saham.

Maka kerisauan lama, yang terus menonjol kini, juga di Indonesia, tetap menganga: Kalau sebuah lembaga pers telah menjelma perusahaan besar -– dengan aset dan relasi bisnis serta sejumlah besar karyawan beserta keluarga mereka yang harus dijaga kepentingannya -– maka kecenderungan untuk pertama-tama melihat perusahaan itu sebagai lembaga bisnis (yang menjual komoditas bernama informasi) seolah tak terelakkan.

Maka sungguh mengesankan menyaksikan bagaimana lembaga pers yang tetap tegar memposisikan dirinya pertama-tama sebagai lembaga pers yang menunaikan hak masyarakat akan informasi terawat dengan baik. Dengan reputasi jurnalistik yang terhormat dan dengan kinerja bisnis yang lebih dari cukup untuk menyejahterakan dan menjaga martabat para wartawannya.***


The Insider; Sutradara: Michael Mann; Pemain: Al Pacino (sebagai Lowell Bergman), Russel Crowe (Jeffrey Wigand), Christopher Plummer (Mike Wallace); Skenario: Eric Roth & Michael Mann; Produksi: Forward Pass/Touchstone Picture


(Disampaikan pada Pelatihan Wartawan Investigasi, IIIJ dan Bank Dunia, Jakarta, 20 Juni 2002)

No comments: