Pages

11.11.08

MEDIA: Televisi Bau Anyir?


"Bau Anyir Darah di televisi," judul berita utama KOMPAS halaman Metropolitan, Senin, 10 November 2008.
Berita ini diawali dengan paparan peliputan media saat puluhan tenaga kerja memprotes agen TKI di kawasan Cinere, Depok, Maret 2007. Protes awalnya damai-damai saja. Beberapa kamerawan, tulis reporter KOMPAS Sarie Febriane dan Neli Triana, mengeluh tidak ada adegan dramatis. "Kalau kecewa bantingin aja Pak, komputer-komputernya," celetuk si jurukamera. Sontak unjukrasa damai berubah ricuh. Komputer berserakan di lantai.
KOMPAS menulis gambaran di atas potret praktik jurnalisme masa kini. Kekerasan menjadi komoditas. Sebagai orang televisi, saya meng-iya-kan berita KOMPAS. Itu fakta. Televisi memanipulasi.
Berita berlanjut, KOMPAS mengutip pendapat kriminolog Universitas Indonesia Erlangga Masdiana bahwa tayangan berita kriminal di televisi diyakini berpengaruh buruk pada publik. Lalu, pembunuhan mutilasi selama 2008 dengan modus serupa marak, akibat efek peniruan tayangan media massa, khususnya televisi! Wow.... Tak keliru bila KOMPAS menulis judul di atas.
Pihak televisi tentu menolak analisis tersebut. Sebagai "agent of change", pengelola televisi pasti meradang bila dituding sebagai bagian "agent of criminal". Faktanya memang, tayangan kriminal yang belasan tahun dipraktikkan televisi swasta nasional memperoleh rating tinggi. Sementara rating tak ubahnya "tuhan" dalam industri penyiaran. Semakin tinggi rating kian menggunung fulus dari iklan. Tak peduli tayangan menyebabkan kerusakan moral dan sosial.
Insan televisi berhak membela diri. Toh, belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan korelasi langsung tingginya kasus pembunuhan mutilasi dengan tayangan kriminal di televisi. Beberapa kriminolog yang menyudutkan industri televisi hanya mengutarakan teori dan analisis mentah.
Sementara, realitas sosial sesuatu yang sangat rumit. Nyaris tidak ada "faktor" yang berdiri sendiri. Maraknya pembunuhan mutilasi boleh jadi akibat banyak pengangguran. Boleh jadi karena meluasnya peredaran minuman keras dan narkoba. Bisa juga karena tokoh agama berada di atas menara gading. Dan seterusnya.
Personel televisi biasanya mengeluarkan jurus jargon: berita televisi adalah saksi mata. Kalau yang sidikit ilmiah berbunyi: warna (sistem) media massa (termasuk televisi) dipengaruhi atau bagian kondisi sosial politik suatu masyarakat/bangsa. Singkatnya, tayangan kriminal bertubi-tubi karena peristiwanya marak. Berita pembunuhan mutilasi marak sebab kasusnya memang ramai.
Terlepas perbedaan kedua kutub di atas, tayangan "darah" jelas produk tidak bermutu. Saya jadi ingat permintaan Karni Ilyas ketika masih menjabat pemimpin redaksi ANTV, sebelum men-delete program kriminal di ANTV. Ia meminta agar berita kriminal diberi "konteks". Sesuatu yang gagal diterjemahkan timnya di newsroom ANTV.
Berita kriminal yang tidak berkonteks sama buruknya dengan liputan keributan dalam antrian minyak tanah, unjukrasa supir, atau keributan pilkades --berskala kecil-- yang gambarnya dinamis namun juga tayang tanpa "konteks".*

No comments: