TAKBIR menggema-gema usai salam ke kiri salat magrib. Jelang pergantian hari pesan singkat si mungil Ana, kontributor ANTV di Makassar menyusup. "Teman's. Fitri adlh kondisi di mana kita tdk lagi brhasrat menindas manusia lain. Fitri adalah ketulusan memuliakan Tuhan, orangtua, saudara, istri, anak, dan sluruh ras manusia. Selamat Idulfitri, mohon maaf lahir dan batin. Semoga Ramadhan membuat kita kembali fitri (Ana Rusli-AJI Mksr/ANTV)."
Wow... Pesan singkat yang menghentak. Kalimat yang mengusung pertanyaan besar: apa setelah Ramadan? Tentu, bukan sekadar kondisi hilangnya salat tarwih atau tahajud, jauhnya tadarus, dan kembali sepinya masjid maupun musala. Sekali lagi bukan itu karena tarwih-tahajud dan tadarus serta lainnya lebih cenderung menjadi "prosesi ramadan".
Lalu, apa ukuran puasa sebulan kita berhasil? Atau kita cuma berlatih menahan lapar dan dahaga untuk menurunkan berat badan, selama sebulan?
Di mimbar masjid-masjid sering dikumandang buah ramadan adalah hilangnya dosa. Umat bak kembali menjadi bayi, seperti kertas putih tanpa dosa.
Buah ramadan sesungguhnya bukan ketika kita meraih fitrah, tanpa dosa. Melainkan fitra seperti yang dimaknai oleh Ana dalam pesan singkatnya.
Wujudnya tidak lain adalah ikhlas. Mampukah kita tak memiliki hasrat apapun dalam setiap hela nafas selain ikhlas itu sendiri. Itu berarti ketika seorang prajurit bergaji rendah menghabiskan waktunya berdiri di pos jaga tidak menjadi masalah. Ia tak perlu menjadi pelindung diskotik mesum untuk mencari tambahan karena yang bersangkutan ikhlas menjadi prajurit.
Seorang jurnalis juga tak gusar sebab gajinya masih di bawah lima juta rupiah --angka yang diperjuangkan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI). Dia tak perlu menjual diri dengan menyebar berita bias untuk mengantongi pendapatan tambahan. Dia ikhlas memilih kewartawanan sebagai jalan hidupnya.
Si Fulan tak berpikir panjang saat membantu seorang rekannya yang tetap saja tak pernah mampu menunjukkan terimakasih. Ia ikhlas membantu tanpa berharap balasan.
Kita berhasil dalam ramadan ini bila besok mampu berikhlas karena hidup pada dasarnya berbisnis dengan Allah. Kita cuma butuh transaksi dengan-Nya. Kita hanya berharap gaji dari Allah, bos kita. Kita cuma mengharapkan terimakasih dari Gusti, sahabat kita. Mari berbisnya dengan-Nya, bukan dengan siapa-siapa.*
No comments:
Post a Comment