Pages

12.9.10

Kontrak Bisnis

"Sesungguhnya ibadahku, hidup, dan matiku semata-mata hanya untuk Allah," begitu isi kontrak bisnis dengan Allah yang kita tandatangani. Naskahnya diteken, bukan sekadar dicetak di kartu penduduk. Kita dilahirkan untuk berbisnis dengan Allah. Begitu pula diwafatkan untuk perhitungan neraca bisnis yang kita toreh dengan-Nya.
Namun apa yang menarik pada bisnis satu ini? Bisnis yang mengagungkan unsur pembagian, sementara penganut aliran bisnis yang berputar selama ini mendewakan penambahan. Bisnis diputar untuk menambah kapital, bukan justru dibagi sehingga bilangan kepemilikan berkurang.
Sekali lagi, di luar persoalan kalkulasi tersebut, yang terlupa --sebenarnya lebih tepat dilupakan-- bahwa kita telah menambatkan sebuah kontrak. Kita cuma berbisnis dengan Allah, bukan yang lain. Tanpa paksaan dari siapapun, kita memilih sendiri rekan bisnis: Allah. Ya, bukan dengan si Tionghoa, si Padang, maupun si Makassar.
Kini jelas, saatnya lebih menghormati transaksi pembagian dibanding penambahan. Berbagi daripada meraup. Memberi lebih baik, bukan meminta. Are you ready?*

No comments: