INILAH kekuatan konsistensi mempertahankan sebuah ciri khas. Rasa soto satu ini tidaklah sungguh luar biasa. Enak, begitu saja. Bukan super enak. Mengapa Soto Gebrak Jaya Mulya yang memulai pelayarannya pada 1973 mampu bertahan hingga kini?
Kita tentu mafhum, bisnis kuliner benar-benar booming beberapa tahun terakhir. Banyak pemain baru; mulai kelas tenda, ruko, kafe, hingga restoran. Namun banyak pula yang tak lama kemudian menghilang. Sementara jumlah "pemain bertahan" dapat dihitung dengan bilangan jari. Salah satunya Soto Gebrak Cak Anton, begitu kadang-kadang dijuluk yang merujuk pada pemiliknya.
Ciri khas itu segera kita ketahui setelah bertandang ke sana. Gebrak! Suara mengagetkan ini senantiasa mengiringi mangkuk sup yang telah diisi. Kekuatan getarnya tidak tanggung-tanggung, bagi pengunjung yang mengidap penyakit jantung bisa "lewat". Benar, ini bukan bercanda. Dapat dibayangkan bila pantat sebuah botol kecap besar dihempas dengan kekuatan penuh ke telapak meja. Gebrak!!! Sungguh dengan tiga tanda seru.
Saat berbuka puasa bersama istri dan anak-anak, jelang lima hari sebelum Idul Fitri, saya menyimak ruh Soto Gebrak yang berawal di jalan Setiabudi Raya, Jakarta Selatan, di belakang gedung Chaze Plaza. Kami di Soto Gebrak Depok, di jalan Margonda Raya. Ruh itu di tangan juru saji utama, lelaki muda berwajah cukup bersih, yang memegang botol kecap. Dia terlihat tak sekalipun bosan menghajar meja. Padahal dia bisa saja jenuh. "Ah, kali ini aku cukup letakkan si botol baik-baik. Toh, sepanjang hari tadi aku sudah menggebrak, berarti telah menjalankan peringtah Cak Anton. Aku pasti tidak bakal dipecat karena sekali tidak membanting botol," sang juru saji boleh jadi berfikir begitu.
Tetapi, ternyata tidak. Gebrak trusss.... Cak Anton menggariskan bahwa saat botol kecap diangkat berarti satu lagi hentakan menggelegar. Pria berkumis ini tidak pernah berfikir, "Nggak perlu full gebrak. Bisa-bisa pengunjung bosan."
Begitulah konsistensi meneguhkan sebuah karakter. Tidak ada kosakata bosan, letih. Bahkan ketika warung soto lain ramai-ramai meniru atau Soto Gebrak ditinggalkan pelanggannya. Terus "menggebrak" tanpa peduli warung makan lain memiliki ciri khas yang lebih unik, lebih modern, atau apapun.
Kagumi Soto Gebrak yang memiliki sejumlah cabang di Jabodetabek, saya teringat stasiun televisi tempat berkarir selama lima tahun persis. Khususnya di Departemen News. Di sini pemahaman sebuah karakter nol. Dan, karenanya tidak ada yang perlu dipertahankan.
Lihatlah, tiada warna produk news-nya yang membuat pemirsa berkata, "Ini baru berita. Coba lihat, tidak ada di stasiun lain." Atau penonton berdecak, "Berita ini juga tayang di televisi lain. Tapi sajian satu ini benar-benar beda."
Karakter program berita tak dimiliki karena mental pengasuhnya pengekor. Sungguh lucu mendengar ocehan sang bos redaksi meributkan satu berita receh di stasiun televisi lain yang tidak dimiliki televisinya. Mengapa mereka tidak fokus dan serius menyajikan "ini berita kami".
Atau, jangan-jangan mereka tidak mengerti "berita". Wow, sebagai pengasuh media yang bekerja --bukan berpengalaman-- bertahun-tahun mereka pasti "marah" membaca penilaian ini. Tunggu dulu, ingat moto Soto Gebrak: Senyum boleh, marah jangan".
Balik ke soto, itu boleh jadi bukan sekadar moto. Dia juga menjadi nyawa kepemimpinan Cak Anton dalam menahkodai bisnisnya. Adakah juga di manajemen News stasiun televisi satu itu? Gebrak!!!*
2 comments:
Sebuah gambaran yang jelas bahwa kita harus komitmen terhadapa apa yang sudah kita recanakan dan perbuat
Yap... meski ini kini menjadi barang mahal, kawan
Post a Comment